Seorang
petugas melintas di depan ruang Ujian Nasional di Polres Tanjung
Perak, Surabaya, (15/4). Seorang siswa SMK melaksanakan Ujian Nasional
di kantor polisi akibat tindak kriminal yang dilakukannya. TEMPO/Fully
Syafi
TEMPO.CO, Jakarta
- Pengamat pendidikan, Darmaningtyas, menilai ujian nasional tahun ini
sebagai yang terburuk. Hal itu disebabkan kekacauan penyelenggaraan
ujian di sejumlah daerah.
“Memang trennya semakin ke sini semakin
buruk,” ujar Darmaningtyas ketika dihubungi, Rabu, 17 April 2013.
Menurut dia, penyebab kekacauan ujian nasional disebabkan perusahaan
pemenang tender terlalu memaksakan pencetakan dan pendistribusian naskah
ujian.
Dia mencontohkan PT Ghalia Indonesia Printing yang
dituding menjadi penyebab utama tertundanya ujian nasional di 11
Provinsi. “Bagaimana bisa satu perusahaan memegang 11 provinsi? Padahal
ada enam pemenang tender. Seharusnya 33 provinsi di Indonesia,
pengadaannya dibagi rata ke enam perusahaan."
Dengan demikian,
kata Darmaningtyas, PT Ghalia terlalu berat dalam menanggung beban
pengadaan naskah ujian. “Harusnya, semakin banyak perusahaan pemenang
tender, beban pengadaan naskah semakin ringan." Seperti diketahui,
jumlah perusahaan pemenang tender ujian nasional tahun ini bertambah
menjadi enam perusahaan, dari sebelumnya empat perusahaan.
Darmaningtyas
mengusulkan agar percetakan disebar di setiap provinsi. “Jadi lebih
mudah mendistribusikannya untuk daerah terpencil ketimbang harus
menunggu dari pusat,” ucapnya.
Kacaunya penyelenggaraan ujian
nasional ditandai dengan tertundanya ujian di 11 provinsi. Ujian yang
seharusnya dilaksanakan serentak pada 15 April 2013 itu harus molor
hingga 18 April 2013 karena PT Ghalia tidak sanggup memenuhi tenggat
waktu pengadaan naskah ujian.
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/04/17/079474016/Ujian-Nasional-Tahun-Ini-Terburuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar